Akulturasi itu Mulus

Bendera “Wulan ndadari” itu berkibar di tengah tetabuhan tambur, bende dan alunan pui-pui dengan tombak berbaris rapi, berderap pasti di antara berbagai kesatuan prajurit kraton Kasultanan Yogyakarta. Mereka adalah prajurit Bugis. Memang kesatuan tak asli Ngayogyakarta. Mereka dari Bugis, belahan timur Nusantara. Tapi kemudian mereka menjadi bagian integral prajurit kraton Ngayogyakarta.

Prajurit kraton itu memang salah satu warisan bernilai yang suntuk dirawat hingga hari ini. Unsur penting dalam kemiliteran Dinasti Mataram ini agaknya selalu di ikhtiarkan agar tak punah menjadi fosil abad silam dan hanya tercatat dalam buku-buku sejarah atau menjadi tuturan mitos sebuah jaman. Kraton, dalam perkembangannya kemudian, ternyata tak serta merta menutup budayanya.

Ia meneruskan budaya Jawa itu kepada masyarakatnya. Termasuk prajurit kraton, termasuk bagaimana ia merawatnya selama ini, termasuk akulturasi di dalamnya. Prajurit Bugis itu termasuk salah satu ikhtiar mulya menempatkan kesatuan prajurit yang berasal dari seberang, dari luar lingkungan kraton. Pada mulanya, kesatuan Bugis adalah prajurit Aru Palaka.

Tapi kemudian tersebar kemana-mana. Termasuk ke Jawa, hingga menjadi prajurit Pangeran Sambernyawa, sang menantu Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Sultan Hamengkubuwono I di Kasultanan Yogyakarta. Ratu Bendara, putri Mangkubumi, kangen kepada ayahnya dan berkunjung ke Yogyakarta, dikawal kesatuan Bugis itu. Dan terjadilah akulturasi dalam kemiliteran di Kasultanan.

Bugis rupanya memang tak sendirian dalam ikhtiar akulturasi itu. Ada kesatuan Daeng dari Makasar, ada kesatuan Nyutra dari Madura yang dibawa ke Mataram oleh Trunojoyo. Dan akulturasi itu tak pernah tersendat, budaya mereka tak serta merta dilenyapkan, bahkan utuh dirawat untuk dipadukan dengan kultur Kasultanan hingga hari ini. Dan proses akulturasi itu mulus.

referensi: Exploring Jogja Volume: 01/IV/April2009,

foto: sini

Dengan kaitkata , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

10 thoughts on “Akulturasi itu Mulus

  1. Yari NK mengatakan:

    Wah…. benar2 warna-warninya budaya Indonesia, dari Sabang sampai Merauke…. Bagaimana dengan akulturasi pada kehidupan sehari2??

  2. ridhobustami mengatakan:

    akulturasi sama ngak yahh dengan indomie…
    kaya lagu sountreknye salah satu pilrres dulu……

    yahh seperti indomie banyak rasa banyak pilihan😀

    • alfaroby mengatakan:

      heheheheheh, ridhobustami bisa aja nih, tetapi yang jelas, indomie mempunyai makna bahwa dari manapun adat dan budaya kita, baik perbedaan bahasa dan suku maupun manapun, kita tetap Indonesia dan tetap makan indomie yang jelas,… hehehehe

  3. andif mengatakan:

    wahh panjang kali tiangnya mas😀
    tidak berat ya pikulnya ??

  4. sawali tuhusetya mengatakan:

    kalau saja proses akulturasi itu berlangsung mulus, mungkin konfli2 yang berbau kedaerahan itu bisa dihindari,m mas faroby. sayangnya, selalu saja ada konflik yang seringkali menggunakan nilai2 primordialsime sbg alasan.

    • alfaroby mengatakan:

      benar sekali pak sawali, alangkah mudahnya kita di adu domba hanya karena masalah yang sepele yang harusnya bisa di selesaikan secara kekeluargaan, tetapi ada beberapa orang yang emosional dan menginginkan serta memanfaatkan dari keruhnya suasana yang ada, semoga adat dan budaya Indonesia tetap bersatu sampai kapanpun, Amin..

  5. skydrugz mengatakan:

    Akulturasi budaya di Indonesia bisa dianggap sebagai salah satu akulturasi budaya paling berhasil yang pernah ada di muka bumi ini.

    Dari ribuan suku dan budaya yang ada di negara ini, toh, benturan budaya tidak sampai separah di Amerika saat pertama kali kolonisasi dulu.

    Cuma sayangnya, terkadang kebudayaan dipolitisir sehingga memicu perpecahan bangsa. Seperti yang terjadi baru – baru ini di pilpres. Seolah – olah politikus kita tidak pernah tahu bagaimana menjaga toleransi berbudaya.

    • alfaroby mengatakan:

      itu dia, memang sebanding dengan akulturasi yang bernilai positif akan membuahkan keberagaman dan persatuan diantara budaya budaya yang ada, tetapi kalau disikapi secara negatif, wah wah wah,.. malah timbulnya perpecahan diantara sesama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: