Monthly Archives: Juli 2009

suatu saat nanti…

Saya seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines, Lowa. Saya mendapat nafkah dengan mengajar piano selama lebih dari 30 tahun. Selama itu, saya menyadari tiap anak didik saya mempunyai kemampuan musik yang berbeda. Tapi saya tidak pernah merasa telah menolong walaupun saya telah mengajar beberapa murid yang berbakat.

Walaupun begitu, saya ingin bercerita tentang murid yang ‘tertantang secara musik’. Contohnya adalah Robby. Robby berumur 11 tahun, ketika ibunya memasukkan dia dalam les untuk pertama kalinya. Saya lebih senang kalau murid (khususnya laki-laki) memulai belajar piano ketika masih muda, saya jelaskan itu pada Robby. Tapi Robby berkata, ibunya selalu ingin mendengar dia bermain piano. Jadi saya jadikan dia murid saya. Robby memulai les pianonya dan dari awal saya pikir dia tidak ada harapan. Robby mencoba untuk belajar bermain, tapi dia tak mempunyai perasaan nada maupun irama dasar yang perlu dipelajari. Tapi dia mempelajari benar-benar  tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang saya wajibkan untuk dipelajari semua murid.

Selama beberapa bulan, dia mencoba terus dan saya mendengarnya dengan “ngeri” dan terus mencoba menyemangatinya. Setiap akhir pelajaran mingguannya, dia berkata, ‘Ibu saya akan mendengar saya bermain pada suatu hari.’ Tapi rasanya sia-sia saja. Dia memang tak berkemampuan sejak lahir. Saya hanya mengetahui ibunya dari jauh ketika menurunkan Robby atau menjemput Robby. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan tapi tidak pernah turun.

Pada suatu hari, Robby tidak datang lagi ke les kami. Saya berpikir Baca lebih lanjut

Iklan
Dengan kaitkata , , , , , , , , , , , ,

Wedang Uwuh di Makam Para Raja

Uwuh adalah sampah.Dan mereka bertebaran leluasa di pelataran bawah makam para raja Mataram di Pajimatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Hari-hari yang diwarnai getaran wibawa peristirahatan wangsa Mataram itu dilalui dengan minuman hangat berbahan cengkeh, pala, secang, jahe, daun salam, rempah-rempah Jawa lainnya. Minuman ini agaknya juga digemari para raja pada saat itu.

Uwuh, atau sampah, memang sebuah idiom untuk menunjuk campur aduknya berbagai rempah-rempah itu dalam sebuah minuman spesifik. Orang jawa selalu bermain-main dengan idiom ini untuk menandai bahwa minuman berjenis unik itu bisa mudah dikenali. Siapa yang tak mengenal sampah, uwuh itu. Tapi dalam konteks ini, uwuh rasanya bikin hangat di badan, segar, sedikit pedas dan akrab.

Pada saatnya, dulu, minuman ini lazim digunakan para prajurit kraton Mataram untuk memulihkan tenaga yang terkuras oleh kerja keras setiap waktu. Mungkin karena itu, lalu ada semacam keyakinan Baca lebih lanjut

Dengan kaitkata , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Perawan Kenes itu Kegemaran Sang Raja

Cahaya temaram lampu gantung itu tak mungkin menjangkau bangsal kemagangan Kraton Kasultanan Yogyakarta. Tapi iringan gending Jawa sayup-sayup terdengar di tengah tawa santun para tamu. Di ndalem necis itu, sang perawan kenes tengah menyambut keriuhan yang sopan dan mempesona semua yang hadir saat berhadapan dengan sang raja dan memenuhi persyaratan kegemarannya.

Ndalem itu adalah Bale Raos, sebuah restoran tradisional di kompleks kraton Yogyakarta. Dan “Perawan Kenes” salah satu kudapan kesukaan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Makanan itu dari pisang yang Baca lebih lanjut

Dengan kaitkata , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

banner “indonesia unite”

Sebuah gerakan moral yang muncul pasca pengeboman di Mega kuningan seminggu lalu untuk melawan teroris dan efek teror yang diciptakan. Bentuk dari gerak moral ini kemudian berkembang antara lain menjadi ajakan untuk mengkampanyekan kepada dunia lewat blog bahwa Indonesia wajib dikunjungi wisatawan ataupun investor luar negeri karena Indonesia kaya budaya, kaya lokasi wisata yang indah, kaya kulinari yang lezat.

silahkan copy tulisan di bawah ini:

<a href=”https://alfaroby.wordpress.com/2009/07/25/banner-indonesia-unite/&#8221; target=”_blank” title=”Indonesiaunite”> <img width=”125″ alt=”Indonesia unite” src=”http://farm3.static.flickr.com/2516/3754401081_6b64d58112.jpg?v=0″></a&gt;

silahkan copy tulisan di bawah ini:

<a href=”https://alfaroby.wordpress.com/2009/07/25/banner-indonesia-unite/&#8221; target=”_blank” title=”Indonesiaunite”> <img width=”125″ alt=”Indonesia unite” src=”http://farm4.static.flickr.com/3534/3754401079_e327df3364.jpg?v=0″></a&gt;

silahkan copy tulisan di bawah ini:

<a href=”https://alfaroby.wordpress.com/2009/07/25/banner-indonesia-unite/&#8221; target=”_blank” title=”Indonesiaunite”> <img width=”125″ alt=”Indonesia unite” src=”http://farm3.static.flickr.com/2665/3754401075_2ac639cb55.jpg?v=0″></a&gt;

referensi dari sini

Tari Bedhaya Sang Amurwabhumi

Ken Arok yang memerintahkan Singasari depalan abad lampau bergelar Sri Radjasa Bhantara sang Amurwabhumi itu bertandang di kraton Kasultanan Yogyakarta. Saat itu gending mendayu-dayu di pendapa ndalem Wironegaran di suatu malam yang anggun. Dan sang Amurwabhumi larut di sana, selama tiga puluh menit yang mempesona.

Begitulah kraton Yogyakarta membuka diri. Betapa sang Amurwabhumi hanya karya tari bedhaya, tapi kraton Kasultanan Ngayogyakarta yang terawat baik hingga di jaman kontemporer sekarang ini, tak menutup diri pada sejarah bangsanya, betapapun pahitnya dia. Tari Bedhaya Sang Amurwabhumi itu diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X setahun setelah dinobatkan menjadi raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Karya seni tari yang dicukil dari serat Pararaton itu mengkisahkan pergulatan asmara serta kepemimpinan yang dipersembahkan Sultan HB X untuk mengenang ayahanda, Sri Sultan HB IX. Pergelaran tari itu memperlihatkan gerak dan penataan koreografis tanpa cacat dalam menggambarkan kisah Ken Arok dan sang Pradnya Paramitha Ken Dedes di sebuah masa yang berbunga dan padat politik kerajaan itu.

Menari memang tak hanya sekedar menghafal gerak. Menari adalah Baca lebih lanjut

Dengan kaitkata , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Akulturasi itu Mulus

Bendera “Wulan ndadari” itu berkibar di tengah tetabuhan tambur, bende dan alunan pui-pui dengan tombak berbaris rapi, berderap pasti di antara berbagai kesatuan prajurit kraton Kasultanan Yogyakarta. Mereka adalah prajurit Bugis. Memang kesatuan tak asli Ngayogyakarta. Mereka dari Bugis, belahan timur Nusantara. Tapi kemudian mereka menjadi bagian integral prajurit kraton Ngayogyakarta.

Prajurit kraton itu memang salah satu warisan bernilai yang suntuk dirawat hingga hari ini. Unsur penting dalam kemiliteran Dinasti Mataram ini agaknya selalu di ikhtiarkan agar tak punah menjadi fosil abad silam dan hanya tercatat dalam buku-buku sejarah atau menjadi tuturan mitos sebuah jaman. Kraton, dalam perkembangannya kemudian, ternyata tak serta merta menutup budayanya.

Ia meneruskan budaya Jawa itu kepada masyarakatnya. Termasuk prajurit kraton, termasuk bagaimana ia merawatnya selama ini, termasuk akulturasi di dalamnya. Prajurit Bugis itu termasuk salah satu ikhtiar mulya menempatkan kesatuan prajurit yang berasal dari seberang, dari luar lingkungan kraton. Pada mulanya, kesatuan Bugis adalah prajurit Aru Palaka.

Tapi kemudian tersebar kemana-mana. Termasuk ke Jawa, hingga menjadi prajurit Pangeran Sambernyawa, sang menantu Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Baca lebih lanjut

Dengan kaitkata , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Penjaga Kebudayaan Jawa

Ketika kebudayaan gugup, pada saat kebudayaan terjerembab, manakala kebudayaan tak ditoleh orang, siapa yang menjaga? Adakah yang terenyuh kemudian bergegas menyelamatkannya? Adakah yang tercengang-cengang dan hanya mengelus dada tanpa berbuat apapun? Atau ada yang sejak awal tak sekejap pun terlelap menjaganya. Mungkin. Tapi Van Peursen pernah berkata dengan luhur. Kebudayaan merupakan endapan kegiatan dan karya manusia.

Namun bila kemudian memang mengendap, endapan itu memang panjang, sepanjang sejarah manusia yang berkelok-kelok itu, jatuh bangun, terseok-seok, terpinggirkan jaman, bahkan menjulang di jaman keemasan yang gemuruh. Dan kebudayaan pun, siapa tahu, pernah terjepit oleh desakan kekuatan budaya baru tanpa peduli, atau bersyukur ia bisa bertahan meski dengan tersenggal-senggal.

Kebudayaan Jawa agaknya memang bertahan dengan caranya sendiri, persis sebagaimana kebudayaan lain yang menggapai-gapai di antara ikhtiar survival mereka. Betapa kuat dan ganasnya pengaruh kebudayaan asing merembas dalam keseharian manusia jawa di abad yang riuh teknologi modern dengan seluruh dampaknya itu. Siapa yang masih taat menggunakan unggah-unggah ketika melakukan komunikasi e-mail di dunia maya bernama internet ini? Baca lebih lanjut

Dengan kaitkata , , , , ,

Candi “baru” di Kantor Bupati Mojokerto

Ketika membahas tentang Mojokerto, saya mengajak anda untuk mencoba kembali ke masa lampau, ke masa kerajaan  di Nusantara, yakni Kerajaan Majapahit, konon kerajaan ini berada di Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Beberapa ahli  purbakala menuturkan bahwa bangunan dan situs bersejarah Kerajaan Majapahit sampai dengan saat ini masih ada, yakni terpendam beberapa puluh meter di bawah tanah, tetapi kepastian secara 100% tentang keberadaan candi tersebut masih menjadi bahan pembicaraan yang tidak kunjung menemukan benang merah.

Beberapa “tetua” yang ada di sekitar daerah Trowulan – Mojokerto mengatakan bahwa secara turun temurun, nenek moyang mereka dahulu adalah mantan prajurit Kerajaan Majapahit, mereka mempunyai suatu tradisi secara turun-temurun yakni menceritakan kepada anak dan cucu mereka tentang bagaimana dahulu nenek moyang mereka adalah seorang prajurit yang tangguh, bagaimana sepak terjang saat kejayaan Raja Majapahit dan bagaimana gagahnya panglima perang paling di takuti seantero Nusantara, Patih Gadjah Mada.

Sampai dengan saat ini, banyak warga sekitar yang masih menyimpan beberapa kepingan uang jaman dulu, peralatan masak tradisional, dan beberapa yang lain menemukan barang barang antik seperti piring, sendok makan, dan guci  dari jaman tiongkok yang mereka yakini berasal dari masa kejayaan Majapahit.

Menurut cerita yang beredar, nama Majapahit berasal dari pohon yang bernama “maja” (bahasa jawa dibaca mojo). Pohon tersebut berada di sekitar area pekarangan kerajaan dan banyak tersebar di seluruh daerah pemukiman penduduk, pohon tersebut berbuah dan terasa pahit, sehingga nama Majapahit berarti mojo seng pahit.

Sejak 2 tahun yang lalu, sebuah ide tentang pembuatan sebuah candi di lakukan oleh Bupati Achmadi, mantan Bupati Mojokerto, pembuatan candi tersebut di khususkan untuk mengenang kejayaan kerajaan yang pernah menggemparkan Nusantara. Saat ini, pembuatan Candi tersebut sudah selesai dan candi tersebut berada didepan kantor pusat Bupati Mojokerto. berikut ini adalah beberapa gambar yang saya foto beberapa minggu yang lalu: Baca lebih lanjut

seberapa cepat anda dalam “mengetik”

silakan kunjungi situs indonesian-speedtest.10-fast-fingers.com.

anda akan bisa mengetahui seberapa kecepatan anda dalam mengetik… selamat mencoba