solusi mengatasi “kemacetan” di jakarta

waktu itu aku duduk di kursi tetangga, dan sambil di temani secangkir kopi panas serta PT HM Sompoerna-Mild. terpegang pada jari jari tangan kananku, obrolan kami ringan ringan saja sampai dengan datang salah satu anggota “Dewan” kabupaten Mojokerto, bapak Yazid Qohar, yang sudah menjadi anggota Dewan selama kurang lebih 25 tahun. wowww. lama juga menurutku.

obrolan kami akhirnya pada suatu permasalahan yang serius, mengenai bagaimana beliau yang baru rapat di Jakarta kemudian harus menuju Bandara Soekarno Hatta dengan kemacetan yang fantastis dan turun di bandara Juanda Surabaya kemudian naik mobil menuju Mojokerto yang di tempuh selama hampir 4 jam, padahal jarak Surabaya dan Mojokerto kurang lebih 50 – 60 km (biasanya pada hari hari sepi cuma 45 – 60 menit).

pak Yazid mengatakan saat ini faktor kemacetan bukan merupakan masalah jalan raya yang semakin sempit atau seringnya orang berlalu lalang tidak tahu aturan (menyeberang jalan) atau bisa juga mungkin gara gara si komo lagi lewat kali… akan tetapi kemacetan yang sering terjadi di kota kota besar seperti Jakarta dan Surabaya adalah karena faktor banyaknya kendaraan baik kendaraan bermotor, mobil maupun kendaraan umum, bis, mikrolet.

jujur saja deh, anda saat ini memiliki berapa buah sepeda motor di rumah…? (ngaku aja deh) padahal kita sendiri menyadari bahwa suatu negara dikatakan disiplin salah satunya adalah jika warganya taat pada peraaturan lalu lintas

lantas bagaimana solusi yang paling terbaik tanyaku….? Pak Yazid kemudian menjelaskan sebagai berikut :

langkah yang paling awal adalah dengan cara menaikkan pajak kendaraan motor yang tinggi aja, kalau bisa pajak sepeda motor itu 1/3 dari harga motor tersebut (misal harga motor 12 juta berarti pajak pertahun sekitar 4 juta). kita sendiri menyadari dahulu kala itu seingatku sepeda motor takut dengan kendaraaan mobil ataupun bis, akan tetapi yang terjadi sekarang adalah justru sebaliknya. kendaraan yang besar besar malahan takut dengan kendaraan sepeda motor (habiz kalau di jalan raya ugal ugalan, gak tahu aturan sih….)

langkah yang kedua yakni mengurangi/membatasi pasokan unit mobil pribadi yang  akan masuk di  perkotaan, maksudnya adalah pembatasan  jumlah penjualan mobil baru yang ada  akan di jual di kota, mungkin dalam satu tahun hanya 1000 unit mobil segala jenis merk yang dapat di beli oleh masyarakat Jakarta. sehingga diharapkan para pengusaha pengusaha atau orang yang gengsi untuk naik kendaraan umum untuk tidak membeli mobil pribadi lebih dari 1 buah unit.

langkah ketiga adalah adanya surat atau keputusan untuk tidak akan memperpanjang STNK bagi kendaraan bermotor yang telah beroperasi lebih dari 10 tahun atau kendaraan mobil yang telah beroperasi lebih dari 15-20 tahun. sehingga diharapkan kendaraan yang ada di jalan raya adalah kendaraan yang layak untuk dijalankan dengan pembuangan gas emisi hasil pembakaran yang ramah lingkungan. kendaraan yang telah melebihi  batas operasi di jalan raya boleh masih di gunakan tanpa adanya STNK akan tetapi hanya di operasikan di daerah perkampungan atau perumahan tanpa bisa digunakan di daerah kota.

langkah keempat adalah diadakannya operasi untuk plat kendaraan baik sepeda motor atau mobil yang bukan dari daerah kota untuk segera mengganti atau membalik namakan plat kendaraan menjadi kendaraan plat “B” (Jakarta) karena terdapat kemungkinan dari diadakannya langkah-langkah diatas banyak beberapa manusia yang akan berinisiatif untuk membeli kendaraan dari kota selain Jakarta akan tetapi akan dioperasikan di kota Jakarta.

langkah kelima yakni pemerintah harus benar benar memperbaiki semua sektor tranportasi termasuk ruas jalan di seluruh area jalan raya di Jakarta sehingga kendaraan umum yang akan melewati jalan jalan tersebut tidak mengalami kendala dalam hal teknis. begitu juga dengan diadakannya 2 jalur kereta api sehingga warga dapat berlalu lalang (pulang pergi)dari jakarta-bandung setiap 60 – 90 menit sekali selama 24 jam. jakarta-surabaya setiap 8 jam sekali dan beroperasi selama 24 jam.

langkah terakhir adalah penyediaan jasa angkutan umum yang baik termasuk penyediaan bis perkotaan yang setiap 5 menit sekali ada di stasiun-stasiun kecil. penyediaan angkutan kereta api yang semakin baik dengan banyak jalur sehingga masyarakat bisa pergi ke daerah daerah tertentu dengan cepat.

diharapkan dengan ke enam langkah di atas sarana tranportasi di daerah perkotaan bisa lancar aman terkendali.

One thought on “solusi mengatasi “kemacetan” di jakarta

  1. gideon charles mengatakan:

    Ada lagi yang lebih bersifat jangka panjang, yaitu pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah Indonesia.
    Coba pikirkan, Jakarta yang hanya se-imprit dari daratan Indonesia, tetapi menjadi pusat dari semua kegiatan politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya.

    Pemerintah dan swasta harus berpikir jangka panjang, untuk merelokasi industri dan bisnis lainnya, ke luar kota Jakarta, bahkan ke luar pulau Jawa, sehingga urbanisasi ke Jakarta bisa dikurangi, otomatis Jumlah penduduk Jakarta akan menurun drastis. Itu baru namanya solusi jangka panjang.

    Bayangkan Pulau Jawa yang subur, yang seharusnya menjadi pusat pertanian sudah dikonversi mejadi lokasi pabrik dan perumahan. Bagaimana kalau Industri2 berat direlokasi ke Kalimantan yang sebagian besar tanah gambut dan masih banyak bahan baku kayu, saya jamin akan lebih baik.

    Kalau peraturan, perbaikan jalan, pembangunan jalan tol dalam dan luar kota, itu semuanya bersifat jangka pendek, bersifat tambal sulam. Memang diperlukan suatu perubahan pola pikir, perubahan birokrasi pemerintahan, ekonomi dan pendidikan untuk mencapai tujuan tersebut.

    Jika di-ibaratkan dengan sebuah Jaringan, maka sekarang ini, Indonesia masih menggunakan sistem star (bintang), dimana Jakarta sebagai Super HUB. Masalah timbul ketika kapasitas Super Hub itu tidak dapat di-ekspansi lagi, jadi timbul lah yang namanya botte neck (komunikasi jadi lambat, bahkan tidak jarang hang).
    Indonesia harus mengubah diri menjadi sistem BUS atau RING. Pada sistem BUS, kekuatan utama ada pada BUS itu, dalam hal ini adalah infrastruktur komunikasi dan transportasi yang merata. setiap Network Element (Kota) mempunyai kapasitas (jumlah penduduk, kemajuan) yang hampir sama, jadi tidak ada kota yang dibebani.

    Pada sistem RING, diperlukan adanya jalur/mekanisme proteksi jika ada ring yang putus. Topolgy ring biasanya lebih handal daripada topology BUS, tetapi proses pembangunannya jelas membutuhkan waktu dan biaya yang lebih besar.

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: