pertama seumur hidup

alfaroby266.jpg

22 Juni 2005.

ayo jon, naik gunung ma riska, hery, rangga, ronald, nogat, yoga, anan, madan.

kapan, besok sore kita berangkat, kumpul di kos madan,

jangan lupa tiap anak Rp. 15.000,00 ya.

buat beli makanan , kita masak masak disana. kita masak sop di puncak merbabu, OK

Sip, tapi bisa gak “neng” masak.

jangan khawatir lah, dijamin deh.

ya udah, aku ma madan yang persiapkan kompor dan peralatan tidur,

eh ya, tendanya kita nyewa dimana ?

pinjam “satub” aja. kayaknya gak dipakai deh.

ya udah , tapi “neng” yang minjam ya.

yo wes, ntar biar aku ma ronald yang ke sana.

eh pakde anan katanya juga ikut.

iya, lha wong dia sendiri yang mau ikut kok

adikku yoga juga ikut lho kik.

nogat diajak dong, masak cuman aku sendiri yang cewek.

sekalian biar ada motornya.

coba tak SMS dulu, mo ikut gak dia.

baru pertama itu aku mendaki gunung, tak terasa seperti mimpi saja, H-1 kami baru membahas mo muncak, padahal biasanya membutuhkan kesiapan yang matang. tapi emang dasar pecinta alam bebas. tak perlu persiapan yang lama. secepat kilat aja sudah terkumpul peralatan dan bahan untuk persiapan naik.

perjalanan sekitar 2 jam akhirnya nyampe juga, bayangin aja, biasa kalau kita orang Indonesia, disuruh kumpul jam 4 Sore malah berangkat baru jam 8 malam. tapi itu semua tak menjadi permasalahan yang serius. emang dasar anak anak. semakin malam semakin asik katanya. kita kan “manusia malam”, celetusnya.

saat tiba di kaki gunung merbabu. hati udah berdebar-debar pengen segera muncak. perjalanan sekitar 3 jam hingga waktu itu hujan turun agak deras, rangga ronald rizka dan nogat (sang manusia pecinta alam) langsung menggelar tenda dengan ekstra cepat. tidur pulaspun akhirnya menghinggapi kami semua.

pagi itu cuaca lumayan cerah, tak mau ketinggalan, kami pun melanjutkan perjalanan hingga memasuki pos terakhir “air”. air hanya bisa didapat pada pos tersebut, tak kami sia siakan. menyantap makanan hasil olahan “neng” rizka langsung dilahap dengan ekstra cepat oleh kami. minum air mentah campur ekstra joss menjadi minuman ternikmat kala itu. istirahat yang cuman 2 jam tersebut akhirnya kami sudahi.

rembulan seperti mengiringi kami saja. pukul 11 malam akhirnya kami hampir mencapai puncak merbabu, “puncak sarif” dan “kenteng songo”. sempat mau melanjutkan perjalanan sampai puncak. akan tetapi anak yang lebih berpengalaman dalam hal “gunung” menasehati agar kami melanjutkan perjalanan menuju puncak nanti waktu agak dini hari saja. sekitar pukul 3 atau 4 pagi, biar bisa melihat mata hari muncul, keren abis deh pokoknya. dari pada kalau berangkat sekarang dipuncak pasti kedinginan nunggu matahari terbit.

kami pun serentak mengangguk mufakat,

dan tanpa dikomando lagi, mata kami terpejam serentak bersama-sama

alarm HP ku pas menunjukkan pukul 3 pagi. kami pun semangat untuk menuju puncak. jalan yang semakin terjal dan berkelok kelok tak membuat hati kami semakin gundah, sang rembulan mulai perlahan menuupi dirinya dengan selimut langit mendungnya

senter dan teriakan dari temen temen serta daya insting kami menjadi petunjuk dalam perjalanan kami.

tepat pukul 4.15 pagi.

Maha Besar Allah atas segala bentuk Ciptaannya. Maha Tinggi Allah atas segala Anugerah yang diberikan kepada kami. Maha Agung Allah atas segala-galanya.

YA Allah terima kasih atas segala yang Engkau perlihatkan kepada kami.

Dingin dan semakin dingin membuat kami mau tak mau semakin merapatkan barisan dan bergerombol di bebatuan untuk menghangatkan badan. tak lupa Dji Sam Soe sebagai penenang kegelisahan kami.

hampir 1 jam kami menunggu sang Syamsu menampakkan dirinya arah bumi timur. kami pun melihat pemandangan yang luar biasa takjubnya.

Ya Allah, Maha diatas Maha

panorama yang seumur umur belum pernah kulihat tersebut tak akan aku hilangkan dalam memory otakku begitu saja. seperti dikomado kami pun berpencar mencari tempat sendiri sendiri tuk memikirkan kekuasaan Allah dari sudut yang berbeda.

pukul 6 pagi. saat itu kami serentak mengiyakan ajakan ronald untuk segera turun. perjalanan turun dan naik emang terasa berbeda. bayangkan aja, kami naik ke puncak hampir 1 jam sedangkan turun puncak hanya 15 menit.

dari bawah, terliht asap yang membuat perut marah marah sudah tercium, mie goreng plus sop panas terhidang dari tangan cekatan “neng” rizka. tak kan ragu ragu dan tanpa basa basi kamipun mengunyah sambil saling bercerita mengenai pengalaman 1 jam yang lalu.

jerit tawa dan suara sendau gurau kami semakin menjadi jadi. tanpa alasan yang jelas kamipun mufakat untuk segera turun dari peraduan pagi itu. perjalanan 3 jam airnya berjumpa dengan motor kesayangan kami yang sudah kami tinggal 2 hari yang lalu.

tak usah panjang lebar lagi, kami pun langsung menuju kediaman kos masing masing.

YA Allah, terima kasih atas ijinmu hingga kami bisa melihat indahnya ciptaanmu dan hebatnya panoramamu.

5 thoughts on “pertama seumur hidup

  1. widi hafiedz mengatakan:

    critanya menarik…bagus..cuman kok ga ada cerita teman2 melewati jalur mana?
    oia sebelumnya saya widi dr KPA Gassmapala di batang.klo kita biasanya naik gunung merbabu lewat jalur ngablak..kita ada basecamp disana di tempatnya simbok..thank ya atas critanya.jd kepingin naik gunung merbabu lagi, udah lama saya udah ga naik gunung..pingin ketemu simbok..oia kita biasa ngadain diksar di gunung merbabu tapi lewat ngablak. kita udah 8 kali ke sana..

    salam kenal
    widi ” Gassmapala” batang

  2. alfaroby mengatakan:

    jujur saja, ke merbabu adalah pengalaman pertama bagi aku dan beberapa teman temanku, sebuah perjalanan yang penuh dengan cerita yang akan selamanya ku kenang dan tersimpan terus dalam memori otak kiriku.

    kalau gak salah dulu kami lewat jalur mana ya, ntar deh aku tanyain temanku, maaf aku lupa, habis udah 2,5 tahun lalu sih,

    wah, mas widi ini sang pecinta alam sejati ya?

    udah 8 kali naik ke puncak merbabu, salut buah mas widi

    mari kita terus mencintai dan memelihara ekosistem yang ada di gunung

    salam untuk anda yang sedang menunaikan tugas mulia

  3. Nicky Destyas mengatakan:

    Wah..kayaknya baca crita ini aku jd pengen ke merbabu lg. 3kali aku naik merbabu tp sekalipun gak pernah muncak. Ngeselin bgt kan?? Jadiii..masih ada keinginan bwt naik merbabu lg. Cita2nya sih pengen muncak.

  4. dankdunk mengatakan:

    eh enak bener bisa naik gunung kl gw udah ndak bisa sbab udh py cindil trus kerja terus kl merbabu udah 50 kali saya naik itu waktu stm dulu thn 95

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: