alfaroby

kembali ke batik alami

Ditulis dalam infoku oleh alfaroby pada 3 Agustus 2009

Canting di tangan terlatih bertahun-tahun itu meliuk mengikuti pola di permukaan kain mori, di tengah asap lilin mendidih di wajan tanpa peduli. Gemulai gerakan canting pembatik Giriloyo kisah panjang sebuah perjalanan budaya. Bahkan nasib. Sekalipun tak sebanyak dulu, tapi kini masih ada 510-an pembatik yang konsisten pada profesinya di dusun Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Mereka para pembatik yang tegar pada tradisi membatik, bahan-bahan, yang mereka gunakan tak pernah bergeser dari bahan alami. Pewarnaan yang mereka pakai dalam membatik juga mengutamakan pewarnaan alami, bukan sintetik, bukan bahan-bahan produksi pabrik, bukan dari produksi massal. Batik, dengan begitu, adalah hasil produk kerajinan bagian integral dari sebuah kebudayaan.

Memang perbedaan penggunaan pewarnaan alami dengan pewarnaan sintetik dalam batik itu cukup mencolok. Pewarnaan sintetik jelas menghasilkan warna-warna plakat yang begitu tegas dan menyolok, hingga membuat batik terkesan kaku, kurang luwes. Warna lembut yang dihasilkan pewarnaan alami jauh lebih luwes, lebih hidup, dinamik, punya kelebihan estetik sebagaimana karya seni.

Kini, saat masyarakat dunia kembali pada hal-hal yang alami, ibu Suliantoro bersama Paguyupan Batik Sekar Jagad memanfaatkan peluang itu dengan mempromosikan batik indigo, yang alami itu. Batik Indigo adalah istilah populer untuk menyebut batik alami dengan pewarnaan indigo, pewarnaan yang berasal dari bahan dasar pewarna daun indigofera. Batikpun agaknya juga kembali ke alam.

referensi: Exploring Jogja Volume: 02/2009

foto dari sini dan sini

41 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. skydrugz said, on 3 Agustus 2009 at 5:07 am

    segala hal yang alami memang selalu terlihat fleksibel dan manusiawi.

    Saya justru melihat bahwa saat ini batik indigo sedang menuju masa-masa gelap karena batik sintesis menawarkan harga yang lebih terjangkau.

    • alfaroby said, on 3 Agustus 2009 at 7:36 am

      memang, tapi saat ini masyarakat dunia mulai mempertimbangkan kembali ke alam, menuju sesuatu yang ramah lingkungan dan kebanyakan orang menyukai tentang nilai estetika.
      saya sendiri menyadari bahwa memang batik sintetik jauh lebih murah daripada batik indigo, tapi batik indigo memberikan kesan yang mewah dan memberikan kesan unik.

  2. morishige said, on 3 Agustus 2009 at 4:38 pm

    510an orang pembatik inilah yang akan mempertahankan tradisi. yang berhak untuk mengklaim bahwa batik memang berasal dari negeri ini. btw regenerasi pembatiknya gmn y?

    • alfaroby said, on 3 Agustus 2009 at 5:24 pm

      tuh dia, kebanyakan para generasi penerus bangsa enggan membeli batik, kebanyakan para orang tua, atau membeli batikpun tidak lebih dari 3 buah, sedangkan yang lainnya bermerk luar negeri,
      kalau sampai begini terus, di tahun tahun mendatang, anak cucu kita tidak akan dapat melihat karya seni sarat budaya, seni batik

      • morishige said, on 3 Agustus 2009 at 5:33 pm

        mungkin skrg saatnya bangsa ini lebih care pada warisan budayanya.. kl gak pengen budayanya diklaim negara lain..

  3. Dangstars said, on 3 Agustus 2009 at 4:54 pm

    Batik…waduh mahal kali tempat kami Boz..
Memang kalo mau ke acara tertentu aja dipakainya..
Btw,ada gak batik untuk dipake santai…?

    • alfaroby said, on 3 Agustus 2009 at 5:25 pm

      setahu saya, di pasar bringharjo (yogyakarta) dan pasar klewer (solo) banyak motif batik yang beragam dan bervariasi, cocok untuk formal dan cocok juga digunakan untuk santai

  4. guskar said, on 3 Agustus 2009 at 5:12 pm

    di sudut2 kota solo dan sekitarnya masih kita temukan pembatik2 tradisional yg karyanya tak kalah dng batik yg telah mendapatkan sentuhan teknologi.

    • alfaroby said, on 3 Agustus 2009 at 5:27 pm

      yap, saya setuju, sampai dengan saat ini, batik alami masih banyak diminati, baik pleh masyarakat indonesia sendiri maupun oleh mancanegara…
      mari terus menjaga seni batik Indonesia

  5. Casual Cutie said, on 3 Agustus 2009 at 7:35 pm

    batik alami kualitasnya sangat bagus dan harganya relatif mahal (tapi sebanding kok harga sama kualitasnya). kalo batik dengan pewarna buatan kok kesannya kurang bagus ya??? kainnya agak kaku dan warnanya terlalu mencolok, jadi sakit mata ntar yang liat. hahahaha

    • alfaroby said, on 4 Agustus 2009 at 8:42 am

      saya setuju jika batik yang asli (alami) memang mahal, tetapi itu semua adalah karya seni, berniloai artistik yang tinggi dan sangat kental dengan budaya Indonesia, hatga menjadi pilihan yang nomer 2 setelah kualitas

  6. Bhakti said, on 3 Agustus 2009 at 7:36 pm

    Sungguh berjasa sekali orang yg menciptakan batik…
    Keindahan alam yg tertuang pada selembar kain,

    • alfaroby said, on 4 Agustus 2009 at 8:43 am

      batik adalah karya seni yang unik dan bernilai estetik yang tinggi, tidak semua orang mahir dalam berkarya seni terutama olah batik, gemulai tangan dan ketelatenan membuahkan hasil tersendiri bagi para peminat batik indigo.

  7. diazhandsome said, on 3 Agustus 2009 at 8:59 pm

    batik Indonesia asli dari Indonesia. bukan hasil plagiat. yeah~

    ayo gunakan batik kawan. kalo kondangan jangan pake jas, mending batik. adeemm :D

    • alfaroby said, on 4 Agustus 2009 at 8:44 am

      bener sekali, sudah saatnya kita sebagai generasi penerus bangsa menjaga budaya dan adat istiadat yang ada, bukan malah di tinggalkan semena-mena dan tak tentu arah, benar kata mas diaz, paling tidak kita memakai batik ketika menghadiri pesta perkawinan

  8. buwel said, on 3 Agustus 2009 at 10:12 pm

    Muantabbb batiknya, buwel suka batik neh…..kalo pake kelihatan lebih dewasa ya…hehehheh

    • alfaroby said, on 4 Agustus 2009 at 8:45 am

      bener banget, selain kelihatan lebih dewasa, juga terkesan sopan dan elegan, punya daya tarik tersendiri

  9. sawali tuhusetya said, on 4 Agustus 2009 at 2:26 am

    batik indigo? sebuah kreativitas yang layak diapresiasi, mas faroby. sebagai produk budaya, sudah saatnya batik dikembangkan lebih lanjut, tak hanya sekadar dilestarikan agar bisa menjadi ikon peradaban bangsa, yang selama ini nyaris luput dari perhatian.

    • alfaroby said, on 4 Agustus 2009 at 8:47 am

      bener banget om sawali, nyaris saja batik kita di akui sebagai karya seni oleh bangsa lain, kemudian kita marah marah, padahal, kita sendiri saat ini jarang memakai batik, malah terkesah ogah bila memakai, padahal saat ini, batik udah mulai bisa dijadikan sebagai pakaian santai, bukan saja pakaian untuk acara resmi

  10. narpen said, on 4 Agustus 2009 at 7:23 am

    aku suka batik.. tergantung motifnya sih (klo yang di gambar ini, bagus banget motifnya :) )
    yang sintetis mungkin lebih colourful ya.. lebih ceria.. jadi aku suka.
    klo yang batik asli, memang lebih elegan.. tapi harus pintar2 mendesainnya supaya tidak monoton. sayangnya ya itu, harganya lumayan juga :D

    • alfaroby said, on 4 Agustus 2009 at 8:48 am

      memang benar, yang sintetik banyak beragam pilihan warna, dibuat oleh pabrikan dalam jumlah massal, tetapi nilai estetik dan kesan mewah dan elegannya masih kurang jika dibandingkan dengan batik yang alami (batik indigo)

  11. mel said, on 4 Agustus 2009 at 8:28 am

    yang alami justru yang mempunyai keindahan alami juga..berbeda dg buatan pabrik

    • alfaroby said, on 4 Agustus 2009 at 8:49 am

      yang alami memiliki daya tarik tersendiri, dan produk yang alami sangat ramah lingkungan,

  12. indra1082 said, on 4 Agustus 2009 at 9:28 am

    Apapun yang terjadi, aku tetap yakin kalau Batik Milik Indonesia… :wink:

    Salam KBM

    • alfaroby said, on 4 Agustus 2009 at 9:48 am

      yap, tapat sekali, saya juga setuju dengan mas indra, mari kita terus menjaga budaya batik khas Indonesia

  13. arifin said, on 4 Agustus 2009 at 9:43 am

    mestinya batik harus bisa dijadikan identitas bangsa. seperti kain sari di india.

    • alfaroby said, on 4 Agustus 2009 at 9:49 am

      ide yang brillian, kalau saja pemerintah mau sedikit memperhatikan nasib para pembatik dan nasib budayawan yang ada.

  14. Yari NK said, on 4 Agustus 2009 at 10:08 am

    Kalau menurut saya…. penggunaan bahan2 alami untuk membatik adalah hanya dalam rangka mempertahankan pengetahuan tradisional kita yang turun temurun itu. Karena tentu penggunaan bahan2 sintetis tidak berbahaya, tidak seperti halnya penggunaan bahan2 sintetis untuk makanan atau kosmetika misalnya.

    Namun begitu, penggunaan bahan2 sintetis perlu dikembangkan, apalagi jikalau yang meneliti itu orang Indonesia, walaupun belum tentu bahan2 sintetis lebih baik dibandingkan dengan bahan2 alami, namun kenyataannya banyak juga bahan2 sintetis yang lebih baik dari yang alami (tentu saja bukan yang dipakai untuk bahan makanan).

    Yang penting adalah pengetahuan Indonesia harus terus maju, kebudayaan Indonesia tidak hanya berhenti pada membatik saja bukan?? Pengetahuan2 lain yang turut mendukung kemajuan budaya batik juga perlu kita kembangkan agar perkembangan batik menjadi hidup dan terus berkembang. Saya melihatnya dari sisi itu… :)

    • alfaroby said, on 4 Agustus 2009 at 2:24 pm

      wah…. ternyata dunia itu luas, sungguh saya sangat bersyukur dapat mengenal mas yari NK, membuka wawasan saya dan mencoba berpikir dari sudut pandang yang berbeda…
      saya setuju dengan pendapat mas Yari, kebudayaan kita tidak hanya berhenti pada membatik saja, tetapi bahkan saya memiliki ide bagaimana kalau membatik di sebuah barang, di sebuah lukisan, di sebuah keramik, di sebuah kayu, nilai entetikanya masih tetap ada, dan yang jelas semuanya adalah seni kerajinan tangan

  15. Arif Swa said, on 4 Agustus 2009 at 1:33 pm

    Dari aspek ekonomi, sebetulnya ada peluang dalam produk batik ini. Masalah teknologi yang digunakan apakah batik tulis atau cetak, bisa dioptimalisasi sesuai target marketnya.

    Btw, kalau ingin belajar bersama mengurai kasus2 marketing indonesia & internasional, please visit marketing blog: http://bmarketer.wordpress.com

    • alfaroby said, on 4 Agustus 2009 at 2:48 pm

      bener banet mas arif, ada peluang yang besar dalam hal ini, karena saat ini masyarakat dunia sedang menuju ke sesuatu yang “ramah lingkungan”, think global act global

  16. rismaka said, on 4 Agustus 2009 at 6:38 pm

    Saya malah mengiranya batik indigo itu batik yang dibuat oleh anak indigo :mrgreen:

    O iya mas, izin mentautkan blog ini di blog saya ya..

    • alfaroby said, on 4 Agustus 2009 at 6:41 pm

      terima kasih yang sebesar-besarnya karena sudah mencantumkan blog saya di blog anda,….

  17. Zulhaq said, on 4 Agustus 2009 at 7:15 pm

    mari kita lestarikan budaya indonesia yang sangat kaya. mari kita indahkan karya2 batik negeri ini ^_^

    • alfaroby said, on 5 Agustus 2009 at 9:30 am

      yap, bener banget mas zulhaq, mari kita terus kembangkan dan menjaga budaya dan adat istiadat kita

  18. ciput mardianto said, on 4 Agustus 2009 at 8:33 pm

    memang kebudayaan kita nggak ada matinya

    • alfaroby said, on 5 Agustus 2009 at 9:33 am

      tak akan pernah rusak dan usang di telan jaman digital dan jaman modern seperti saat ini, asalkan kita sebagai generasi penerus bangsa masih mau menjaga dan melestarikan adat dan istiafat budaya yang ada

  19. sobatsehat said, on 4 Agustus 2009 at 8:46 pm

    ayo jaga batik kita dan lestarikan

    • alfaroby said, on 5 Agustus 2009 at 11:11 am

      ayo….. generasi penerus bangsa seperi kita ini jangan sampai seperti kacang yang lupa kulitnya, terus lestarikan dan jaga adat dan budaya kita

  20. wi3nd said, on 5 Agustus 2009 at 11:00 am

    ba9us…,
    se9aLa sesuatU yan9 dibuat den9an alami seperti itu hasilnya meman9 memuaskan..

    • alfaroby said, on 5 Agustus 2009 at 11:15 am

      yap, sesuatu yang alami sangat berkesan, adanya kesan unik dan ramah lingkungan


Tinggalkan Balasan